Jumat, 03 Juni 2011

Kisahku yg Dulu

Karena Nya Aku Menolakmu

Ini kisahku, saat dulu mengenal cinta semu
Cuma cerita pencarian jati diri anak manusia
Masa belia, serba ingin mencoba segalanya
Tanpa sadar perangkap setan telah menanti di sana
Cintamu menerangkapku dalam dosa dan nafsu
Sampai hari itu, kejadian itu
Aku memutuskanmu
Ini penjelasanku
Apa yang engkau mau kuberikan semampuku
Tapi yang satu itu tak boleh berlaku
Meski kau trus meminta tuk lakukan demi cinta
Tapi maaf aku tak mudah tuk tergoda
Saat kau tanya mengapa, Oou ku tak mau
Aku pun yakin menjawab
Karena Nya aku menolakmu

5 Taujih Ruhiyah

1.     Membina keimanan yang mendalam
Keimanan harus ditumbuh suburkan dalam hati. Hati ini merupakan ujung tombak segala aktivitas kita. Jika hati dalam keadaan baik dan suci maka pikiran dan aktivitas yang kita jalankan akan baik pula. Iman tentunya perlu dibina secara kontinu agar tetap melekat erat di hati. Ketika kondisi iman kita semakin naik pada level yang tinggi maka ruhiyah kita pun akan semakin terjaga. Iman terkadang naik kadang turun ( futur ).
2.     Menjaga keikhlasan
Ikhlas adalah sesuatu yang tidak Nampak. Dan tidak ada barometer ikhlas. Yang tahu ikhlas itu hanyalah allah semata. Di mana kita sering berusaha untuk ikhlas seikhlas-ikhlasnya, tapi ketika sedikit saja ada tujuan lain selain meraih Ridho-Nya, sudah tidak dikatakan ikhlas lagi. Bahkan kebanyakan orang mengatakan, “Aku ikhlas”. Menurut saya pernyataan itu kurang tepat, karena ikhlas itu tidak akan diketahui oleh orang lain. Hanya Allah lah yang tahu samapai sejauh mana tingkat keikhlasan kita. Yang lebih tepat untuk dikatakan adalah “ Aku rela “. Nah, maka dari itu mari kita senantiasa menjaga keikhlasan di setiap aktivitas kita agar menjadi aktivitas yang berkah dan tidak sia-sia. Tentunya susah sekali untuk menciptakan/ menumbuhkan rasa ikhlas itu. Yah, namanya juga usaha. Berusaha untuk yang lebih baik itu wajib.  
3.     Kesabaran
4.     Keberanian
5.     Optimis

Kamis, 02 Juni 2011

Ciri-ciri Penduduk Surga

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan surga bagi hamba-hamba yang beriman dan menciptakan neraka bagi orang-orang kafir. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi dan rasul akhir zaman, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba’du.
Berikut ini adalah sebagian ciri-ciri dan karakter orang-orang yang dijanjikan oleh Allah mendapatkan surga beserta segala kenikmatan yang ada di dalamnya, yang sama sekali belum pernah terlihat oleh mata, belum terdengar oleh telinga, dan belum terlintas dalam benak manusia. Semoga Allah menjadikan kita termasuk di antara penduduk surga-Nya.
1.     Beriman dan beramal salih
Allah ta’ala berfirman,
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan balasan berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai…” (Qs. al-Baqarah: 25)
Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah mengatakan,
“Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan -iman-. Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat -yang benar-. Sementara ucapan, amal, dan niat pun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan as-Sunnah/tuntunan.” (Qathfu al-Jani ad-Dani karya Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, hal. 47)
al-Baghawi rahimahullah menyebutkan riwayat dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu bahwa yang dimaksud amal salih adalah mengikhlaskan amal. Maksudnya adalah bersih dari riya’. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu mengatakan, “Amal salih adalah yang di dalamnya terdapat empat unsur: ilmu, niat yang benar, sabar, dan ikhlas.” (Ma’alim at-Tanzil [1/73] as-Syamilah)
2.     Bertakwa
Allah ta’ala berfirman,
“Bagi orang-orang yang bertakwa terdapat balasan di sisi Rabb mereka berupa surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, begitu pula mereka akan mendapatkan istri-istri yang suci serta keridhaan dari Allah. Allah Maha melihat hamba-hamba-Nya.” (Qs. Ali Imran: 15)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menguraikan jati diri orang bertakwa. Mereka itu adalah orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka. Mereka menjaga diri dari siksa-Nya dengan cara melakukan apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka dalam rangka menaati-Nya dan karena mengharapkan balasan/pahala dari-Nya. Selain itu, mereka meninggalkan apa saja yang dilarang oleh-Nya juga demi menaati-Nya serta karena khawatir akan tertimpa hukuman-Nya (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 119 cet Dar al-’Aqidah 1423 H).
Termasuk dalam cakupan takwa, yaitu dengan membenarkan berbagai berita yang datang dari Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan syari’at, bukan dengan tata cara yang diada-adakan (baca: bid’ah). Ketakwaan kepada Allah itu dituntut di setiap kondisi, di mana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan selalu bertakwa kepada Allah, baik ketika dalam keadaan tersembunyi/sendirian atau ketika berada di tengah keramaian/di hadapan orang (lihat Fath al-Qawiy al-Matin karya Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah, hal. 68 cet. Dar Ibnu ‘Affan 1424 H)
an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, salah satu faktor pendorong untuk bisa menumbuhkan ketakwaan kepada Allah adalah dengan senantiasa menghadirkan keyakinan bahwasanya Allah selalu mengawasi gerak-gerik hamba dalam segala keadaannya (Syarh al-Arba’in, yang dicetak dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 142 cet Markaz Fajr dan Ulin Nuha lil Intaj al-I’lami)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah memaparkan bahwa keberuntungan manusia itu sangat bergantung pada ketakwaannya. Oleh sebab itu Allah memerintahkan (yang artinya), “Bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu beruntung. Dan jagalah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Qs. Ali Imron: 130-131). Cara menjaga diri dari api neraka adalah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan terjerumus ke dalamnya, baik yang berupa kekafiran maupun kemaksiatan dengan berbagai macam tingkatannya. Karena sesungguhnya segala bentuk kemaksiatan -terutama yang tergolong dosa besar- akan menyeret kepada kekafiran, bahkan ia termasuk sifat-sifat kekafiran yang Allah telah menjanjikan akan menempatkan pelakunya di dalam neraka. Oleh sebab itu, meninggalkan kemaksiatan akan dapat menyelamatkan dari neraka dan melindunginya dari kemurkaan Allah al-Jabbar. Sebaliknya, berbagai perbuatan baik dan ketaatan akan menimbulkan keridhaan ar-Rahman, memasukkan ke dalam surga dan tercurahnya rahmat bagi mereka (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/164] cet Jum’iyah Ihya’ at-Turots al-Islami)
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengimbuhkan, bahwa tercakup dalam ketakwaan -bahkan merupakan derajat ketakwaan yang tertinggi- adalah dengan melakukan berbagai perkara yang disunnahkan (mustahab) dan meninggalkan berbagai perkara yang makruh, tentu saja apabila yang wajib telah ditunaikan dan haram ditinggalkan (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits 1418 H)
Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan riwayat dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Mu’adz ditanya tentang orang-orang yang bertakwa. Maka beliau menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan, peribadahan kepada berhala, dan mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah.” al-Hasan mengatakan, “Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka.” Umar bin Abdul Aziz rahimahullah juga menegaskan bahwa ketakwaan bukanlah menyibukkan diri dengan perkara yang sunnah namun melalaikan yang wajib. Beliau rahimahullah berkata, “Ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan.” Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, serta kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (dinukil dari Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits 1418 H)
Pokok dan akar ketakwaan itu tertancap di dalam hati. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pada hakikatnya ketakwaan yang sebenarnya itu adalah ketakwaan dari dalam hati, bukan semata-mata ketakwaan anggota tubuh. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu dikarenakan barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu semua muncul dari ketakwaan yang ada di dalam hati.” (Qs. al-Hajj: 32). Allah juga berfirman (yang artinya), “Tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah -hewan kurban itu-, akan tetapi yang akan sampai kepada Allah adalah ketakwaan dari kalian.” (Qs. al-Hajj: 37). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketakwaan itu sumbernya di sini.” Seraya beliau mengisyaratkan kepada dadanya (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).” (al-Fawa’id, hal. 136 cet. Dar al-’Aqidah 1425 H)
Namun, perlu diingat bahwa hal itu bukan berarti kita boleh meremehkan amal-amal lahir, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Petunjuk yang paling sempurna adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara itu, beliau adalah orang yang telah menunaikan kedua kewajiban itu -lahir maupun batin- dengan sebaik-baiknya. Meskipun beliau adalah orang yang memiliki kesempurnaan dan tekad serta keadaan yang begitu dekat dengan pertolongan Allah, namun beliau tetap saja menjadi orang yang senantiasa mengerjakan sholat malam sampai kedua kakinya bengkak. Bahkan beliau juga rajin berpuasa, sampai-sampai dikatakan oleh orang bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berjihad di jalan Allah. Beliau pun berinteraksi dengan para sahabatnya dan tidak menutup diri dari mereka. Beliau sama sekali tidak pernah meninggalkan amalan sunnah dan wirid-wirid di berbagai kesempatan yang seandainya orang-orang yang perkasa di antara manusia ini berupaya untuk melakukannya niscaya mereka tidak akan sanggup melakukan seperti yang beliau lakukan. Allah ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menunaikan syari’at-syari’at Islam dengan perilaku lahiriyah mereka, sebagaimana Allah juga memerintahkan mereka untuk mewujudkan hakikat-hakikat keimanan dengan batin mereka. Salah satu dari keduanya tidak akan diterima, kecuali apabila disertai dengan ‘teman’ dan pasangannya…” (al-Fawa’id, hal. 137 cet. Dar al-’Aqidah 1425 H)
3.     Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Allah ta’ala berfirman,
“Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (Qs. an-Nisa’: 13)
Allah ta’ala berfirman tentang mereka,
“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman itu ketika diseru untuk patuh kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul itu memutuskan perkara di antara mereka maka jawaban mereka hanyalah, ‘Kami dengar dan kami taati’. Hanya mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. an-Nur: 51)
Allah ta’ala menyatakan,
“Barang siapa taat kepada Rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (Qs. An-Nisaa’ : 80)
Allah ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya.” (Qs. al-Anfal: 24)
Ketika menjelaskan kandungan pelajaran dari ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanyalah bisa digapai dengan memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang tidak muncul pada dirinya istijabah/sikap memenuhi dan mematuhi seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun sebenarnya dia masih memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dia dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan pada diri orang yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka masih hidup. Oleh karena itulah maka orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang luput darinya sebagian darinya maka itu artinya dia telah kehilangan sebagian unsur kehidupan, dan di dalam dirinya mungkin masih terdapat kehidupan sekadar dengan besarnya istijabahnya terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Fawa’id, hal. 85-86 cet. Dar al-’Aqidah)
4.     Cinta dan Benci karena Allah
Allah ta’ala berfirman,
“Tidak akan kamu jumpai suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkasih sayang kepada orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya meskipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, maupun sanak keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan Allah di dalam hati mereka dan Allah kuatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah, ketahuilah sesungguhnya hanya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. al-Mujadalah: 22)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah. Memberi karena Allah. Dan tidak memberi juga karena Allah. Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [10/181] as-Syamilah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua dan anak-anaknya.” (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ciri keimanan yaitu mencintai kaum Anshar, sedangkan ciri kemunafikan yaitu membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari)
5.     Berinfak di kala senang maupun susah
Allah ta’ala berfirman,
“Bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya di kala senang maupun di kala susah, orang-orang yang menahan amarah, yang suka memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri maka mereka pun segera mengingat Allah lalu meminta ampunan bagi dosa-dosa mereka, dan siapakah yang mampu mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka juga tidak terus menerus melakukan dosanya sementara mereka mengetahuinya.” (Qs. Ali Imron: 133-135)
Membelanjakan harta di jalan Allah merupakan ciri orang-orang yang bertakwa. Allah ta’ala berfirman,
“Alif lam mim. Ini adalah Kitab yang tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada perkara gaib, mendirikan sholat, dan membelanjakan sebagian harta yang Kami berikan kepada mereka.” (Qs. al-Baqarah: 1-3)
Syaikh as-Sa’di memaparkan, infak yang dimaksud dalam ayat di atas mencakup berbagai infak yang hukumnya wajib seperti zakat, nafkah untuk istri dan kerabat, budak, dan lain sebagainya. Demikian juga ia meliputi infak yang hukumnya sunnah melalui berbagai jalan kebaikan. Di dalam ayat di atas Allah menggunakan kata min yang menunjukkan makna sebagian, demi menegaskan bahwa yang dituntut oleh Allah hanyalah sebagian kecil dari harta mereka, tidak akan menyulitkan dan memberatkan bagi mereka. Bahkan dengan infak itu mereka sendiri akan bisa memetik manfaat, demikian pula saudara-saudara mereka yang lain. Di dalam ayat tersebut Allah juga mengingatkan bahwa harta yang mereka miliki merupakan rezki yang dikaruniakan oleh Allah, bukan hasil dari kekuatan mereka semata. Oleh sebab itu Allah memerintahkan mereka untuk mensyukurinya dengan cara mengeluarkan sebagian kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka dan untuk berbagi rasa dengan saudara-saudara mereka yang lain (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [1/30] cet. Jum’iyah Ihya’ at-Turots al-Islami)
6.     Memiliki hati yang selamat
Allah ta’ala berfirman,
“Pada hari itu -hari kiamat- tidak bermanfaat lagi harta dan keturunan, melainkan bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (Qs. as-Syu’ara: 88-89)
Abu Utsman an-Naisaburi rahimahullah mengatakan tentang hakikat hati yang selamat, “Yaitu hati yang terbebas dari bid’ah dan tenteram dengan Sunnah.” (disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya [6/48] cet Maktabah Taufiqiyah)
Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa hakikat hati yang selamat itu adalah, “Hati yang bersih dari syirik dan keragu-raguan. Adapun dosa, maka tidak ada seorang pun yang bisa terbebas darinya. Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir.” (Ma’alim at-Tanzil [6/119], lihat juga Tafsir Ibnu Jarir at-Thabari [19/366] as-Syamilah)
Imam al-Alusi rahimahullah juga menyebutkan bahwa terdapat riwayat dari para ulama salaf seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu Sirin, dan lain-lain yang menafsirkan bahwa yang dimaksud hati yang selamat adalah, “Hati yang selamat dari penyakit kekafiran dan kemunafikan.” (Ruh al-Ma’ani [14/260] as-Syamilah)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pengertian paling lengkap tentang makna hati yang selamat itu adalah hati yang terselamatkan dari segala syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan larangan-Nya. Hati yang bersih dari segala macam syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya. Oleh sebab itu, hati semacam ini akan terbebas dari penghambaan kepada selain-Nya. Dan ia akan terbebas dari tekanan untuk berhukum kepada selain Rasul-Nya…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Hati yang selamat artinya yang bersih dari: kesyirikan, keragu-raguan, mencintai keburukan, dan terus menerus dalam bid’ah dan dosa-dosa. Konsekuensi bersihnya hati itu dari apa-apa yang disebutkan tadi adalah ia memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengannya. Berupa keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kebaikan dan memandang indah kebaikan itu di dalam hati, dan juga kehendak dan kecintaannya pun mengikuti kecintaan Allah, hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang datang dari Allah.” (Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 592-593 cet. Mu’assasah ar-Risalah)
Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan karakter si pemilik hati yang selamat itu, “… apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya karena Allah. Apabila dia memberi maka juga karena Allah. Apabila dia mencegah/tidak memberi maka itupun karena Allah…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)
Demikianlah sekelumit yang bisa kami tuangkan dalam lembaran ini. Semoga bermanfaat bagi yang menulis, membaca maupun yang menyebarkannya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi (Artikel www.muslim.or.id)
Sumber Artikel:
Source:



10 Karakteristik Muslim Sejati

Jadilah muslim dalam setiap tindakanmu, jangan menjadi seorang muslim hanya nama saja. Dengan menjadi seorang muslim berarti Allah meninggikan jiwa kita dan mengarahkan kita kepada sebuah akhir kegembiraan yang kekal. Minimal ada 10 karakter atau ciri khas dalam diri seseorang yang mengaku sebagai muslim, yang menjadi pembeda dari yang lainnya. 10 karakter itu adalah :
1.       Salimul Aqidah ( Aqidah yang bersih )
Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam (QS 6:162).
2.       Shahihul Ibadah ( Ibadah yang benar )
Salah satu perintah Rasul Saw yang penting dalam satu haditsnya, beliau menyatakan: “shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”. Dari hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap ibadah harus merujuk kepada sunnah Rasul Saw.
3.       Matinul Khuluq ( Akhlak yang kokoh )
Akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung (QS 68:4).
4.       Qowiyul Jismi ( Kekuatan Jasmani )
Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat.
Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah (HR. Muslim).
5.       Mutsaqqaful Fikri ( Intelek dalam berpikir )
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).
6.       Mujahadatun Linafsihi ( Berjuang melawan hawa nafsu )
Setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.
Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7.       Harishun Ala Waqtihi ( Pandai menjaga waktu )
Waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wal laili dan sebagainya.
Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8.       Munazhzhamun fi Syu’unihi ( Teratur dalam urusan )
Suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.
9.       Qadirun Alal Kasbi ( mandiri )
Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
10.   Nafi’un Lighairihi ( Bermanfaat bagi orang lain )
Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.
Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).

Semoga kesepuluh karakter yang telah dijabarkan di atas dapat kita realisasikan dalam pribadi kita masing-masing yang mengaku sebagai muslim sejati. Banggalah karna kamu islam.

Rabu, 01 Juni 2011

My Hope

Yang lain pada mudik, karna libur panjang 1 minggu lebih. Namun, aku tetap stay in d'kost. Rindu kampung halaman,...rindu keluargaku,...pengin berlama-lama di rumah. Rasanya semua beban hilang sejenak ketika di rumah. Tidak lagi memikirkan tugas kuliah, tidak memikirkan proposal KAP dan tethek bengek tentang KAP. Akan tetapi, apakah aku harus seperti itu? Tegakah aku meninggalkan semua itu? Apakah aku harus menyerah? Enggak khan?!! Allah pasti tahu apa yang aku rasakan. Inginku pergi dan lari dari rutinitasku ini, tapi aku tak mau dibilang pengecut yang tak bertanggung jawab. Akan kuusahakan memberikan kontribusi terbaikku. Ya rabb, luruskan selalu niat hambaMu ini. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik meski tak jarang aku ngomel-ngomel sendiri. Action dan ruhiyah harus diimbangi. Terima kasih kepada semua partner yang telah mendampingiku dan membantu serta menemaniku. :)

Pengharapan

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."  QS. Ali-Imran: 8
Katakanlah hari ini adalah milikNya Allah. Sebaik apapun rencana kita,tetap Allah lah yang menentukan rencana terbaik untuk kita. Semoga keikhlasan senantiasa mengiringi di setiap langkah kita. Syukuri selalu nikmat yang telah diberiNya. Cobaan akan selalu hadir untuk menguji ketaqwaan. Akankah kita tetap tegar menghadapinya dan tetap ikhlas menjalaninya? Semoga Allah tidak mencabut petunjukNya kepada kita. Semoga kita tidak terjerumus ke dalam ke putusasaan. Senantiasa berdoa dan memohon ampun kepada Allah. Ijinkanlah kami lurus berjalan di jalanMu ya Rabb.

Jumat, 20 Mei 2011

Penguatan

Jalan itu panjang dan berliku. Kenapa kita harus lewat jalan itu? Jawabnya.....karena itulah jalan menuju rumah-Nya. Di setiap adaniatan baik untuk berdakwah, selalu ada halangan. Sabar dan lewati jalan itu dengan ikhlas kawand!!!*_*

Rabu, 18 Mei 2011

Pembangun Jiwa

Jika kamu hanya ingin bermimpi maka tidurlah. Namun, jika kamu ingin mewujudkan mimpi maka BANGUNLAH !!!

Ajak sebanyak-banyaknya orang untuk bergabung dalam dakwah untuk bersama-sama menggapai surga-Nya.

Memanfaatkan waktu untuk terus beramal.

Bukan hanya nilai/hasil saja, tapi prosesnya itu penting.

Menempatkan sesuatu sesuai porsinya.
 
Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. (HR. Al-Hakim)

Kenalilah/ingatlah Allah disaat lapang, niscaya Allah akan mengenal/mengingatmu disaat sempit. (HR. At-Tirmidzi)

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. " (QS. Al-Baqarah : 216). Apapun yang telah terjadi hari ini semoga tidak ada keluh kesah, karena hari ini adalah pigmen-pigmen pembentuk diri yang insya Allah lebih baik lagi. Amiin.

Kaki mungkin tertatih,tapi cintaNya menyapa tanpa letih. Hasil mungkin tak sesuai rencana, tapikasih sayangNya membuat sempurna. Raga mungkin lelah, tapi surgaNya pasti lebih indah. SEMANGAT !!!

Selalu ada cara lain, selalu ingin tahu, cari sebanyak mungkin ide, cari contohnya di dunia ini dan tetap fokus pada siapa dirimu dan apa yang kamu inginkan. Dan jalankan kewajiban sebagai hamba Allah dengan energik, ikhlas dan penuh antusias.

Minggu, 15 Mei 2011

Pengakuan

Saya belum pantas menjadi murobbi. Saya masih lemah. Saya belum menguasai ilmu islam secara summul. Saya masih takut membina. Saya takut tidak bisa menjadi Qudwah. Saya telah banyak bermaksiat selama ini. Seringkali kesalahan di masa lalu menghantui saya. Pikiran-pikiran itulah yang membuat saya ragu untuk melangkah, ragu untuk membina. Ya Allah, aku memohon ampunan kepadaMu. Hanya Engkaulah yang tahu segala isi hatiku. Engkaulah yang Maha Tahu. Kuatkanlah diri ini. Izinkan hamba untuk istiqomah di jalan ini. Teguhkan pijakan hamba. Ampunilah segala khilaf hamba. Hilangkan keragu-raguan itu. Yakinkan diri ini agar selalu teguh dan kuat menapaki jalan dakwah ini. Ya Rabb, hilangkan kemalasan hamba, saya ingin banyak belajar dan membaca buku untuk menambah tsaqofah islamiyahku, sebagai salah satu modal dalam membina. Ijinkan aku membina dan mantapkan langkahku ya Rabb.
                                        
                              Dauroh I'dad MR, 14-15 mei 2011




Senin, 09 Mei 2011

Teguran itu datang lagi …!


Selalu ada cerita yang beda setiap dua pekannya. Mungkin ini merupakan effect dari jargon KAP 2011 yang kali ini mengusung jargon “BEDA” . Entah dari pemikiran siapakah kata “BEDA” itu muncul. Tiba-tiba waktu launching udah ada jargon tersebut.
Alhamdulillah selama setengah hari tadi kegiatan KAP Outdoor telah berhasil terlaksana. Kegiatan yang telah dikonsep oleh panitia KAP tersebut bisa dikatakan 85% telah sesuai dengan rencana meskipun peserta yang datang tidak sesuai dengan yang seharusnya mengikuti kegiatan KAP tersebut, artinya peserta yang datang mungkin hanya seperempat bagian dari peserta yang biasanya datang.
Acara diawali dengan penampilan nasyid ‘Effect’ dari SMA 12 Semarang yang membawakan 4 buah lagu. Dilanjutkan dengan acara pembukaan yang langsung dibawakan oleh kedua MC yang bertugas. Pembukaan dimulai dengan tilawah kemudian sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama oleh ketua KAP sendiri dan sambutan yang kedua oleh Bapak Nur Rochmat ( pendamping UKKI ) yang sekaligus membuka kegiatan KAP Outdoor hari ini. Ketika memberikan sambutan Bapak Nur Rochmat pun menegaskan kepada seluruh peserta KAP bahwa kegiatan KAP, Mentoring dan KAP bukanlah bagian dari NII. Beliau juga mengatakan bahwa KAP, TPAI dan Mentoring dilindungi oleh Universitas Negeri Semarang. Jadi kegiatan ini adalah resmi dari Universitas dan tidak ada hubungannya dengan NII yang sedang booming di masyarakat. Semoga peserta dan masyarakat kampus lainnya tidak takut lagi dengan kegiatan mentoring yang sering terlihat di berbagai sudut kampus Unnes ini. Karena memang kenyataannya mentoring adalah kegiatan yang diadakan untuk membentuk pribadi keislaman agar menjalankan syari’at islam sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Setelah acara pembukaan selesai, masuk ke acara inti yaitu senam dan outbond yang dipandu oleh tim dari Madani Outbond. Dimulai dengan Senam Sehat Bangsaku (SSB) yang dipimpin oleh 2 instruktur senam dari Madani. Peserta dipompa kesemangatannya agar mengikuti senam dengan serius dan semangat. Para peserta pun antusias dan semangat sekali, sampai-sampai setelah senam berakhir minta tambah senam 1 kali lagi. Karna waktu udah hampir siang langsung dlanjutkan dengan Outbond yang diawal dengan permainan yang melibatkan respon. Kemudian dilanjutkan permainan Cublak-cublak suweng yang diikuti oleh semua mentee dan tutor masing-masing. Kegiatan outbond yang meriah dan seru telah berhasil me-refresh pikiran peserta KAP yang akhir-akhir ini penat dengan banyaknya UTS atau tugas-tugas kuliah.
   Serangkaian acara inti telah berhasil dilaksanakan. Kegiatan ditutup oleh MC yang sebelumnya telah membacakan beberapa pengumuman-pengumuman penting bagi peserta. Kegatan ditutup dengan do’a bersama.
Peserta bubar dan panitia mulai membereskan tempat kegiatan. Tiba-tiba ada salah satu peserta yang merasa motornya tidak berada di tempat ia parkir pagi tadi dan melaporkan kepada panitia yang berada d tempat transit. Deg. Innalillahi wa innalillahi raji’un. Panitia yang tahu laporan tersebut langsung menuju ke TKP dan berusaha melihat sekeliling. Dan ga ditemui motor yang dimaksudkan. Honda Beat warna item dengan plat K xxxx NN. TKP memang sepi sekali, tak ada satu pun motor di situ. Sang pemilik motor pun semakin lemas dan pucat. Ia menangis terisak dan mencari sandaran di bahu orang yag didekatnya. Ia menangis karna takut kalo motornya benar-benar hilang. Wajar memang. Menangislah dek, tapi tenang ya, motormu sedang diusahakan untuk dicari. Karna hari ini hari Minggu, tak ada satu pun satpam di lingkungan kampus. Kami bingung harus lapor kepada siapa. Lalu dicoba mencari polisi di Balai Kemitraan. Namun, sama saja. Balai tersebut tutup. Bingung dan wara-wiri ke sana kemari. Muter-muter.
Jreng. Jreng. Jreng… setelah balik lagi ke TKP telah terlihat sebuah Honda Beat warna Item yang sedang dicari di samping kerumunan orang-orang dan sang pemilik yang sedang menundukkan kepalanya karna terharu dan masih lemas. Alhamdulillah. Plong rasanya. Ternyata motor yang dicari bukannya ilang karena dimaling, tapi motor tersebut dimasukkan oleh seorang penjaga garasi bus Unnes ke dalam garasi tersebut. Hmm. Beruntung sekali. Terima kasih ya Rabb Engkau tidak menguji kami ( panitia KAP ) dengan kehilangannya sebuah motor milk peserta. Entah apa jadinya jika motor itu benar-benar hilang karna maling. Ini memang teguran bagi kami. Kami kurang memperhatikan sisi keamanan dlam setiap kegiatan KAP. Evaluasi bagi semuanya. Keamanan memang hal yang sepele, tapi jika tak aman maka akan jadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan dan mendebarkan serta masalah besar bagi KAP. Yang tadinya deg-degan dan takut sekarang jadi tersenyum bahagia karna motor telah ditemukan. Pesan buat sang pemilik motor: jangan sembarangan parkir sepeda motor ya. Waspada dan hati-hati.
Ucap syukur wajib terhaturkan pada Allah Sang Penguasa jagad raya. Allah menegur hambaNya untuk lebih berhati-hati menjaga kepemilikannya. Syukuri segala hal yang kita punyai, karna belum tentu orang lain merasakan kenikmatan yang sama seperti yang sedang kita nikmati saat ini. Kebahagiaan dunia ini tak akan kekal, dengan selalu bersyukur semoga kebahagiaan ini menjadi penuh barokah.

               Dalam naungan cinta-Mu, 8 Mey 2011

Istikharah Cinta


Album : Istikharah Cinta
Munsyid : Sigma
http://liriknasyid.com

Bersaksi cinta diatas cinta
Dalam alunan tasbih ku ini
Menerka hati yang tersembunyi
Berteman dimalam sunyi penuh do'a

Sebut nama Mu terukir merdu
Tertulis dalam sajadah cinta
Tetapkan pilihan sebagai teman
Kekal abadi hingga akhir zaman

Istikharah cinta memanggilku
Memohon petunjukmu
satu nama teman setia
Naluriku berkata

Dipenantian luahan rasa
Teguh satu pilihan
Pemenuh separuh nafasku
Dalam mahabbah rindu

diistikharah cinta..

Aku dan Al-Qur’an


Kehidupan ini terus berputar. Hari demi hari terus berlalu. Namun Allah tidak akan membiarkan semua berlalu begitu saja dengan sia-sia. Akan selalu ada perhitungan untuk setiap detik yang dilalui oleh manusia. Dalam kehidupan ini pasti ada suka dan duka, kemudahan dan kesulitan, lapang dan sempit, sehat dan sakit, bahkan ada kehidupan dan pasti akan ada kematian. Perlu dicatat bahwa semua keadaan tersebut memang sengaja diciptakan oleh Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya, untuk mengetahui siapa yang terbaik di antara mereka, untuk mengetahui siapa yang benar-benar bertaqwa kepada-Nya.
Allah SWT berfirman yang artinya, "Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya ….." (Al-Mulk: 2).
Dan pada ayat yang lain, Allah berfirman, "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami nyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (Muhammad: 31).
Demikianlah bahwa Allah senantiasa menguji hamba-hambaNya yang beriman untuk menaikkan level keimananNya. Adanya kemudahan, kesulitan, dan semua yang terjadi dalam kehidupan kita merupakan ujian dari Allah, dan kebanyakan manusia tidak mampu melaluinya dengan sabar. Jika kita diuji dengan kesusahan dan kesempitan, kita mampu bersabar tetapi jika kita diuji dengan kesenangan biasanya kita tidak mampu bersabar.
Selain itu, tidak jarang pula bahwa musuh-musuh Islam akan selalu melancarkan serangan kepada umat Islam dan melemahkan aqidah umat islam dengan menyebarkan berbagai macam fitnah (cobaan dan godaan).
Mengingat banyaknya cobaan di depan mata kita dan besarnya hembusan angin godaan (fitnah) yang akan menerpa kita, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Akan tetapi, kita harus menyiapkan berbagai sarana untuk menghadapinya dan melakukan kiat-kiat yang dapat mendorong kita untuk mampu menggapai keteguhan hati dan mematapkan iman kita di tengah-tengah derasnya arus fitnah tersebut.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan agar hati kita tetap teguh di jalan Allah dalam keadaan apapun. Salah satunya yakni menerima Alquran dan selalu berinteraksi dengannya. Alquran merupakan sarana untuk menggapai keteguhan hati yang paling utama, karena Alquran adalah tali Allah yang kuat dan cahaya yang terang. Barang siapa berpegang teguh padanya, maka Allah akan melindunginya. Barang siapa yang mengikutinya, maka Allah akan menyelamatkannya. Barang siapa yang menyeru kepadanya, maka Allah akan menunjukinya jalan yang lurus. Al-qur’an selalu membawa ketenangan bagi para pembacanya maupun yang mendengarkan lantunan ayat-ayatnya.
Allah mengabarkan bahwa tujuan diturunkan-Nya Alquran secara berangsur-angsur adalah untuk meneguhkan hati Rasulullah saw., sebagaimana difirmankan oleh Allah, "Berkatalah orang-orang kafir, 'Mengapa Alquran tidak diturunkan kepadanya sekali saja?' Demikianlah supaya Kami teguhkan hatimu dengannya. Dan Kami membacakannya dengan tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya."(Al-Furqan: 32--33).
Mengapa Alquran menjadi sumber utama untuk meraih keteguhan iman?
  1. Karena Alquran menanamkan keimanan serta menyucikan jiwa dengan selalu berhubungan kepada Allah.
  2. Karena Alquran turun sebagai penyejuk dan pendamai hati seorang mukmin, sehingga tidak khawatir dengan adanya hembusan angin fitnah. Hatinya tenang karena mengingat  Allah.
  3. Karena Alquran membekali seorang muslim dengan pemahaman dan idealisme yang benar, yang dengan hal itu ia mampu meluruskan hal-hal yang kurang benar di sekitarnya.
  4. Alquran membantah syubhat-syubhat yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir dan munafik.
Seseorang yang selalu berinteraksi dengan Alquran, insya Allah jiwanya akan selalu terjaga, sebab Al-qur’an merupakan peringatan yang sangat berarti bagi orang yang beriman. Seseorang yang mencintai Al-Qur’an pasti mencintai Allah, karena di dalamnya diterangkan sifat-sifat Allah SWT. Begitu pun seseorang yang mencintai Al-Qur’an pasti juga mencintai Rasulullah SAW karena Al-Qur’an merupakan wahyu yang diberikan oleh Allah pada beliau.
Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa mencintai Al_Qur’an, ia pasti mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya (HR Bukhari).
Bagi orang yang mencintai dan memperhatikan Al-Qur’an akan mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Mereka merupakan orang-orang yang tergolong sebagai umat yang penuh kebaikan. Dengan begitu, umat Muhammad SAW sebagai umat yang terbaik, sebagaimana firman Allah SWT ,”Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS Ali Imran: 110).
Kebaikan umat Muhammad SAW adalah karena mereka mempunyai karakter yang khas: yakni mereka ahlul Qur’an. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).
Salah satu ciri yang paling jelas orang yang mencintai Al-Qur’an adalah selalu bersegera memahaminya, merenunginya, dan memikirkan makna-maknanya. Sebaliknya, tanda orang yang tidak mencintai AL-Qur’an adalah enggan merenungkannya dan memikirkan makna-maknanya. Allah SWT mencela orang-orang munafik karena mereka enggan memikirkan Al-Qur’an.
Merenungkan Al-Qur’an dapat mengobati berbagai penyakit hati. Cahaya Al-Qur’an akan menembus ke dalam hati manusia lalu menyembuhkan penyakitnya, membersihkan bahaya-bahayanya, dan memutuskan keragu-raguan dan gangguan yang dihembuskan ke dalam hati oleh setan dan jin.
Memperhatikan Al-Qur’an juga merupakan jalan memperoleh makna-makna dan memahami maksudnya. Hal ini merupakan pokok kewajiban agama. Mengetahui kewajiban agama merupakan salah satu dari kewajiban-kewajiban mengamalkannya.
Maka dari itu, jika kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad SAW, mari berlomba-lomba untuk mempelajari Al-Qur’an serta mengamalkannya. Akan terasa sangat lucu jika kita ingin diakui sebagai umat Nabi Muhammad SAW tapi kita enggan mengamalkan maupun mempelajarinya. Mari senantiasa menghidupkan rumah-rumah kita dan lingkungan kita di sekitar dengan bacaan Al-Qur’an. Semoga dengan amalan tersebut kta senantiasa terjaga keteguhan hati dan kokoh iman kita. Amiin.

Senin, 02 Mei 2011

Motivation

Tetaplah tersenyum karna masih banyak karunia yang ada padamu. Tetaplah melangkah karna engkau masih kuat untuk berpijak. Tetaplah berkarya karna engkau masih punya banyak kesempatan. Tetaplah menyapa karna engkau masih punya banyak sahabat. Tetaplah beramal karna engkau masih punya ruang - ruang kebaikan. Tetaplah bersyukur karna engkau masih punya kehidupan. Tetaplah berharap karna engkau masih punya ALLAH .
Keep Spirit. Allah besides you !

Menyambut Mei -> Bulan penuh karya

Bersiap untuk SERUNAI ( Semarak Ukhuwah dalam Nuansa Islami ). Kamu pasti bisa.

Buah-buahan bekal di akhirat

Apel : Ayo pelajari Al-Qur'an
Strawberry : selalu taat dan rajin memberi
Jeruk : Jangan berbuat buruk
Pisang : Pantang iri, sombong dan angkuh
Anggur : Anggota gemar bersyukur
Jambu : Jaga iman dan Qolbu
Tomat : Bertobat dan tidak maksiat
Talas : Tidak ada kata malas
Mentimun : Menuntut ilmu tidak banyak melamun

Ayo segera kita konsumsi supaya iman kita tetap sehat....^_^

Burung Twitter